Bukit Monggo Runggu, Bagai Negeri Diatas Awan

Bima.- Riuh kicauan burung menandai waktu Subuh menjelang Pagi, semilir angin sepoi menghembus, menandai kemurnian alam diatas bukit,kabut awan kian mengepul dari puncak menutupi Desa dari seberang.Para pendaki mulai bersiap dengan Camera selvi nya,hamparan kabut awan menjadi tempat yang adem untuk berpose. Begitulah keadaan diatas bukit ? Ya tentu itu Bukit Monggo Runggu yang berlokasi Desa Runggu Kecematan Belo Kabupaten Bima.

Tidak kurang dari 30 menit berjalan melewati Gunung bebatuan, Pendaki akan mencapai puncak bukit Monggo Runggu.selama dalam perjalanan tentu pendaki akan menikmati pesona alam, bagaimana tidak dalam perjalanannya, pendaki akan melihat dari bukit pedesaan yang nan hijau dihiasi awan mengepul.

Dikala pagi, angin bertiup kabut naik ke atas hingga pandangan seperti dikaburkan mengepulnya awan.tampak dari kejauhan Desa dibawah kaki gunung tak dapat terlihat,tentu momen seperti ini ditunggu para pendaki. Kala terbitnya sinar mentari yang menjadi bukit panorama alam semakin pesona momen itupun dijadikan pendaki untuk bersantai menatap keindahan alam dari kejauhan.

Bukit Monggo Runggu,kini menerima para Wisatawan dengan menjanjikan keindahan alam yang asri dari kejauhan tampak seluruh wilayah Kabupaten Bima dapat dilihat dari Bukit ini ayok melancong di Monggo Runggu. (ab).

Corona Dalam Pandangan Orang Beriman

Oleh: Imam Mujahid.

Munculnya covin 19 atau yang lebih dikenal dengan Virus Corona, bagi orang beriman, melihatnya bukan hanya sebagai fenomena biasa saja, yang hanya di lihat pada aspek empiris, sebagaimana banyaknya spekulasi yang berkembang seperti kemunculan covin 19 merupakan hasil dari eksperimen para Dokter di china, lalu mengenai Salah satu Dokter, dan Dokter yg terjangkit itu berinteraksi dengan banyak orang hingga akhirnya Virus itu tersebar kemana”.

Selain itu, ada juga spekulasi bahwa covin 19 merupakan rekayasa kelompok iluminati sebuah kelompok rahasia yang bergerak dibawah tanah dan menjalankan segenap agenda Zionisme berdasarkan ajaran Qabala.

Mereka menciptakan Tatanan Dunia Baru yakni di mana kontrol pemerintahan, agama dan ekonomi di seluruh dunia berada dalam satu kendali.

Implementasi dari New World Order (Tatanan Dunia Baru) adalah membuat kekacauan didunia termasuk menggulingkan pemerintahan-pemerintahan berdaulat negara lain untuk kemudian disusupi oleh ‘pemerintahan bayangan’ dari Illuminati.

Berbagai macam program yahudi, seperti Program keluarga berencana, imunisasi, menciptakan berbagai perang fisik diberbagai negara, menyebarkan virus agar dapat mengurangi populasi dunia.

Lepas dari itu semua, benar atau salah maka sikap orang beriman dengan adanya fenomena ini, tidaklah membuat mereka bingung.Jadi dengan akal yang dikaruniai Allah kita bisa melihat dan memahami fenomena ini, orang beriman bisa sampai pada kesimpulan, bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa, yang mencipta dan mengatur alam semesta. Lihatlah, cara kerja virus corona dan mekanisme sistem kekebalan tubuh manusia yang begitu menakjubkan. Semua itu mengarah pada satu kesimpulan rasional, bahwa “Ada yang mengatur semua itu”.

Sistem itu tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, dengan “kuasa alam”. Karena alam itu sendiri ada yang mengaturnya. Jika ada yang mengatakan, semua keteraturan itu terjadi dengan sendirinya, sama saja ia mengatakan, pada tahun 1960, ada tumpukan batu, bata, semen, pasir, besi, kaca, dan lain-lain di Jakarta, lalu terjadilah badai dahsyat yang menerbangkan semua bahan itu. Akibatnya, semua bahan itu bercampur dengan sendirinya, lalu muncullah bangunan raksasa bernama Masjid Istiqlal!.

Jadi, semua itu terjadi atas kehendak Allah, manusia tidak memiliki kehendak (Irodat). Oleh karna itu peristiwa ini hendak menjadikan kita semakin beriman dan mendekat diri kepada Allah.

Wallahu’alam.

(Penulis merupakan Kordinator guru Bimbingan dan Konseling di MAN 1 Kabupaten Bima dan Dosen di STKIP Taman Siswa Bima)

Naskah Kuno Mbojo

Oleh: Nurul Awaliyah.

Awal perjalanan observasi dimulai dari kampus, setelah di beri tugas oleh dosen untuk mencari naskah kuno daerah masing-masing kami langsung mencari informasi tentang tokoh-tokoh adat Mbojo yang ada di Mataram. Tidak sampai satu jam kami mendapatkan informasi dan langsung menuju kediaman tokoh adat Mbojo yang bertempat di Jl. Industri No. 26 A, Taman Kapitan, Kel. Taman Sari Ampenan, Mataram. Tempat yang kami datangi yaitu Kalikuma dan tokoh yang kami wawancarai bernama Bapak Imam Edi Ashari (menejer kalikuma). Kalikuma merupakan semacam LSM yang bergerak di bidang literasi dan kemanusiaan, berdiri sejak Tahun 2013, filosofi dari kalikuma itu sendiri merupakan binatang yang berada di Bima, kalikuma itu kalau dilihat tidak bergerak namun ketika kita palingkan muka dan kembali melihat binatang kalikuma tersebut dia sudah berpindah posisi dan akan tertinggal jejaknya. Direktur utama dari kalikuma adalah Dr. Abdul Wahid atau sering disebut Abadu Wahid. Menurut peryataan bapak Imam Edi Ashari, yang kami wawancarai terdapat 1 naskah kuno yaitu BO SANGAJI KAI dan ada pula terdapat buku karya-karya penulis lokal seperti, Tambora 1815, La Bibano Putri Kalepe, Daeng La Minga, La Hila dan buku kesultanan bima. Bo Sangaji Kai itu merupakan salah satu catatan murni oleh kesultanan bima yang mencatat tentang keseharian yang dilakukan kesultanan bima, kehidupan masyarakat kala itu yang disusun dan dikumpulkan oleh Ina Ka’u Mari tetapi tidak semuanya di tafsirkan kedalam bahasa Indonesia karena tertulis dalam aksara Bima. Aksara Bima itu marupakan metode komunikasi orang-orang jama dulu jadi orang-orang jaman dulu menggunakan surat tidak seperti sekarang, dan untuk saat inipun belum ada yang fasih dalam membaca naskah kuno karena belum ada yang bisa mempelajari akasara bima.

Mengenai tentang buku Tambora 1858 merupakan salah satu hasil riset yang dilakukan oleh tim kalikuma dan dijadikan sebagai novel semi fiksi, oleh tim kalikuma tambora diteliti selama tiga tahun. Tambora merupakan salah satu wilayah yang sangat sulit dinarasikan, sulit untuk diceritan sejarah yang pakem karena hampir semua catatan sejarahnya semua habis, ada beberapa perintis sejarah yang coba untuk menarasikan Tambora lewat sebuah cerita novel tetapi didalamnya banyak dibicarakan tentang riset-riset yang ditemukan termaksud perdagangan perempuan terdapat juga suatu pelabuhan besar disana.

Belum Puas dengan hasil wawancara yang pertama kelompok kamipun pergi melakukan wawancara untuk kedua kalinya tetapi wawancara yang kedua ini kami langsung bertemu dengan pemilik atau ketua dari kalikuma yaitu bapak Dr. Abdul Wahid atau sering disebut Abadu Wahid tetapi kami sering mamanggil beliau dengan sebutan Abah. Abah merupakan salah satu dosen aktif di Universitas Islam Negri Mataram (UIN). Dari wawancara tersebut kami banyak bertanya tentang naskah – naskah kuno yang ada pada museum ASI di Bima, dari pernyataan abah banyak sekali naskah – naskah yang ada di museum ASI Bima tetapi naskah tersebut tidak sembarangan orang yang bisa pinjam karena sangat di jaga kesakralanya oleh ketururnan kerajaan Sultan Bima. Sepeninggalan Ina Ka’u Mari naskah – naskah tersebut sekarang di jaga oleh keponakanya yaitu Ibu Dewi dan Ibu Vera. Sebenarnya masih banyak naskah yang belum di translate dalam bahasa Indonesia karena kendalanya masih kurang fasih dalam membaca huruf aksara Bima, kemudian kendala yang kedua yaitu huruf aksara bima pada naskah kuno tersebut menggunakan huruf aksara bima – bugis. Jadi Aksara bima dulu sempat bertransformasi atau banyak huruf yang mengalami pergantian bahkan ada juga yang hilang.

Setelah wawancara lama akhirnya abah menunjukan naskah yang beliau pribadi miliki, naskah tersebut ia dapatkan dari ayahnya setelah ia lulus kuliah. Akhirnya abah memberikan solusi kepada kami, abah menyuruh kami untuk sedikit belajar aksara bima karena tulisan yang ada di naskah aba tersebut terdapat sedikit kesamaan seperti huruf aksara Bima sekarang. Abah memberikan kami sebuah foto huruf aksara bima untuk di pelajari.

Pengalaman yang mengesankan saat kami mengunjungi kalikuma adalah sebelum wawancara dengan abah, saat kami tiba di kalikuma hanya ada tiga orang cowok, kami belum sempat berkenalan tetapi yang saya tau dan saya kenal disana adalah bang Aden, mahasiswa alumni unram yang dulu sempat mengambil jurusan bahasa inggris di fkip tetapi pindah ke fakultas kedokteran. Saat kami tiba di kalikuma abah sedang tidak di sana karena masih ada urusan lain, akhirnya kami sedikit berdiskusi dengan abang aden dan temannya, banyak hal yang kami diskusikan terutama tentang naskah kuno dan kebudayaan Bima. Pada saat itu bang Aden pun membantu tugas kami, beliau menghubungi temanya di Malang yang kuliah jurusan bahasa Indonesia juga dan pernah mendapatkan tugas sama seperti kami.

Kami sangat senang berdiskusi dengan orang-orang di kalikuma karena mereka sangat welcome dengan kedatangan kami disana, kami juga sangat senang berada disana karena fasilitasnya sangat memadai seperti adanya wifi, toilet, dapur, kamar untuk sholat, tempat duduk, perpustakaan dengan dua lemari besar yang terisi banyak buku, bukan hanya buku tentang kebudayaan Bima tapi disana terdapat banyak buku dengan berbagai macam tema, oleh karena itu kalikuma sangat cocok untuk para mahasiswa yang mengerjakan tugas dan mencari reverensi.

Mengenai proses nyeput dalam daerah Bima tidak ada yang namanya proses nyeput tersebut ataupun ritual tertentu yang harus di lewatin sebelum membuka naskah kuno tetapi yang saya ketahui sampai sekarang biasanya orang Bima kalau hendak memegang benda sakral biasanya cukup dengan niat yang baik kemudian membaca Bissmilahirahmanirrohim, dengan begitu kita bisa membuka naskah kuno. Saya pernah bertanya pada salah satu mahasiwa STKIP Bima kebetulan dia juga sangat tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Bima, selain itu dia juga merupakan seorang jurnalis di salah satu media Online dan Cetak yang ada di Bima. Dikatakanya, bahwa dalam Budaya orang Bima tidak pernah melihat Ina Ka’u Mari atau Hj.Siti Mariam anak dari sultan Bima yakni Sultan Muhammad Salahuddin melakukan ritual apapun sebelum membuka naskah Bo Sangaji Kai.

Dalam budaya Bima tidak ada ritual tertentu dalam membuka ataupun ingin memegang naskah kuno tetapi beda lagi dengan benda-benda sakral yang masih dipercaya menyimpan energy ghaib atau magic, biasanya orang Bima jika ingin memegang benda sacral warisan pusaka seperti keris, cincin dan lai-lain mereka cukup dengan niat yang baik kemudian mengajak ngobrol benda tersebut seaka-akan benda tersebut adalah benda yang hidup. Biasanya mereka ngobrol denga menggunakan bahasa yang halus.

(Penulis merupakan salah satu Mahasiswa di Universitas Negeri Mataram Jurusan Sastra Bahasa Indonesia)

Pers Bukan Teroris

Oleh : Abdurrahman

Maraknya kasus pengkerdilan terhadap insan Pers lantaran karna tulisanya semakin hari semakin subur di tanah ini.

Baru-baru ini termuat kasus Moh Sadli Saleh (33 Tahun) seorang wartawan di Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara yang dipenjara karna tulisannya menggambarkan seakan-akan Pers sudah tidah punya ruang di tanah dengan Hukum Demokrasi ini untuk memiliki kebebasan sesuai dalam amanat UU Pers nomor 40 tahun 1999, jika wartawan dalam tulisanya atau penyiaranya terdapat kekeliruan Pers wajib melayani hak Jawab dan hak Koreksi.

Selain itu, dengan adanya kasus tersebut Nota Kesepahaman antara Dewan Pers dengan Kopolisian Negara Repoblik Indonesia tentang kordinasi perlindungan kemerdekaan Pers dan penegak hukum seakan-akan sudah tidak mempunyai prinsip dan hanya sebagai bahan bacaan saja bukan untuk dijalankan dan ditegakan, seharusnya dengan adanya nota kesepahaman tersebut masalah Pers terkait karya jurnalistik tidak bisa diadukan langsung ke pihak kepolisian namun harus melewati Dewan Pers.

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) seakan-akan menjadi UU karet untuk menjerat dan menjadi alasan serta ancaman untuk mengikat kebebasan Pers.

Ditanah nusantara bernama Indonesia yang berwajah Demokrasi seharusnya Pers menjadi pilar utama yang menghidupkan marwah demokrasi dan membudayakan Hak Asasi Manusia (HAM) untuk kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat baik lisan maupun tulisan.

Saya masih teringat pernyataan Thomas Jefferense Presiden Amerikat Serikat yang ke 3 seorang Founding fathers lewat siaran Pers pernah mengatakan “Lebih baik memiliki Pers tanpa pemerintah dari pada memiliki Pemerintah Tampa Pers” pernyataan tersebut menggambarkan betapa pentingnya keberadaan pers demi kesehatan suatu negara, Pilar penyeimbang dan penyelamat pilar yang lain ketika lumpuh.

Namun kenyataan dilapangan, Pers seakan-akan menjadi elemen pengacam bagi beberapa oknum yang gagal paham bahkan yang tidak mau paham dengan fungsi pers sebagai pengontrol dan pengawas kebijakan-kebijakan negara, pelaksanaan anggaran dan lain sebagainya.

Sudah menjadi kesepakatan, bahwa Pekerjaan wartawan memang berhubungan dengan kepentingan Publik karna wartawan adalah bidan sejarah yang mencatat setiap peristiwa baik maupun buruk, wartawan sebagai insan Pers juga adalah pengawal kebenaran dan keadilan, pemuka pendapat, pelindung hak-hak pribadi masyarakat, musuh penjahat kemanusiaan seperti Koruptor dan polisi busuk yang serakah.

Tulisan-tulisan wartawan yang benada mengancam bahkan meneror kepentingan beberapa oknum maupun kelompok tertentu menjadi momok tersendiri dan membuat resah bagi pelaku kepentingan pribadi atau kelompok yang mengesampikan kepentingan publik atau rakyat pada umumnya.

Dianggap rasis dan propokasi bahkan dituding mencemarkan nama baik, padahal tugas wartawan hanyalah menulis bukan membuat ataupu mengada-ngada suatu peristiwa.

Wartawan bukan peneror, jangan berbuat yang salah jika tidak ingin diberitakan terkait yang salah, pemberitaan yang disiarkan oleh perusahan Media bertujuan untuk membina atau memberi pelajaran kepada yang melakukan kesalahan dan merugikan negara atau orang lain, bukan bermaksud menimbulkan rasa takut sehingga merasa terganggu.

Pers bukan teroris, praktek jurnalisme sudah diatur dalam Undang-Undang bahkan termuat dalam Nota Kesepahaman antara beberapa lembaga seperti Polri atau TNI, Kejaksaan Negri, Komisi Perlindungan Anak, KPU dan Bawaslu serta masih nyak instansi lainnya.

Sistim keterbukaan di Negara ini wajib di budayakan dan dibudidayakan, sebab negara ini adalah negara yang menganut sitim Demokrasi “Dari Rakyat Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat” kekuasaan yang hakiki ada di tangan rakyak, rakyat wajib tau tentang bagaimana kinerja pemerintah, kebusukan-kebusukan yang disembunyikan serta prestasi yang diraih.